Doa Untuk Sahabat

Doa Untuk Sahabat

Sebab naik pesawat adalah mimpi disaat masih kecil. Sebelum masuk Sekolah Dasar, keadaan yang memaksa aku dan ibu harus ke Surabaya untuk waktu yang lumayan lama tinggal disana. Ibuku sakit hingga harus bertemu dengan dokter andalan rekomendasi keluarga. Menggunakan Mandala Airlines adalah pilihan saat itu. Berpergian dengan pesawat tahun 80-an akhir adalah sebuah kemewahan, sebab masih begitu banyak trasportasi pilihan seperti kapal laut dan bis malam yang memakan waktu hingga 3 harian.

Melihat pramugara dan pramugari, muncul lah sebuah mimpi. Ingin seperti mereka bisa terbang kesana kemari, dari satu kota ke negara lain dan gratis! Bercita citalah ingin melanjutkan sekolah ke dunia pariwisata. Semasa SMU begitu rajinnya mengikuti kursus bahasa Inggris walau hingga kini bahasa inggrisku pun jauh dari sempurna. Tak jarang setiap weekend tiba, memaksa pergi ke Danau Toba hanya untuk bisa mengumpulkan begitu banyak tandatangan turis manca negara untuk berlatih berbicara, berfoto dengan bule adalah sebuah kebanggan. Sungguh pengalaman yang mungkin sekarang tidak ada, sebab dengan smartphone dan youtube kita bisa latihan berbagai bahasa hingga bisa.

Mimpiku berlanjut saat SMU harus punya sahabat pena, melatih menulis bahasa Inggris melalui surat sekaligus alasan mengoleksi prangko luar negeri. Sebuah kesempatan mempertemukanku pada seorang keluarga ( sumai istri – MR Theo & Ms Corrie) asal Belanda dan saat aku harus mengikuti Praktek Kerja Lapangan di salah satu Travel agency di kota Medan. Menjadi Co Tour Guide adalah pilihan agar bisa punya banyak teman dari mancanegara, termasuk dengan MR Theo dan Ms Corrie di 5 hari bersama menelusuri Sumatera Utara.

Surat pertama aku kirim, menggunakan prangko seharga 9000 an jika tidak salah, tibanya belasan hari sebab belum punya uang untuk beli perangko express yang harganya puluhan ribu. Tujuannya adalah alamat dimana MR Theo tinggal, Belanda tepatnya.  Begitu senangnya saat surat pertama aku dibalas beberapa minggu kemudian, sehingga menulis surat ke beliau seterusnya menjadi semangat dan terus giat.

Ada ratusan surat dan ratusan postcard yang dikirim ke aku selama aku SMU dan aku masih simpan rapih hingga kini, dan entah berapa gulden uang yang selalu dikirim untuk beli peralatan sekolah dan jajan dan masih kuingat hingga nanti.

Hampir sebulan ada 2 hingga 3 surat aku terima, bahkan kadang beliau hanya mengirimkan postcard khas satu negara yang mereka kirim jika mereka melakukan perjalanan wisata. Kantor Pos menjadi langganan saat harus menukarkan gulden ke rupiah. Tak jarang abang dan kakakku juga kecipratan walau hanya traktir makan bakso dan sejenisnya.

Tiba harus melanjutkan kuliah ke Jakarta juga disambut oleh Mr Theo & Ms Corrie, koresponden pun dilanjutkan dari alamat kos ku di Jakarta bahkan sesekali ke alamat kampus dimana aku kuliah. Mereka membantuku dari sisi finansial dan ini merupakan anugerah. Sejujurnya bukan hanya materi yang aku dapat tetapi juga semangat untuk terus belajar dan meraih cita cita agar bisa menjadi pramugara walau kenyatataanya pekerjaanku sekarang tidak ada hubungannya. Dari mereka aku belajar mencintai orang tua, dan selalu mengucap syukur pada pencipta. Layaknya seperti orang tua, tak jarang isi suratnya hanya bertanya keadaan kuliah dan keluarga.

I take this Picture in one village before we arrived in Lake Toba

 

 

 

 

 

MR Theo punya anak yang tinggal di Australia, saat akan berkunjung ke rumah anaknya, begitu baiknya MR Theo & Ms Corrie sengaja mengambil penerbangan yang transit di Jakarta, dan kami pun mengatur jadwal untuk bisa bertemu di Bandara. Saat itu bolos dari kuliah tidak sia sia, bisa bertemu dengan sahabat terbaik dari berbeda benua walau hanya beberapa menit disebuah ruangan transit. Bersalaman, memeluk Mr Theo dan Ms Corrie dengan erat tak meyadarkanku meneteskan air mata. Ahh….rindu saat itu. “Hey Come on Kids, dont cry”  kata Mr Theo.

Tibalah aku harus meninggalkan Jakarta sekitar tiga bulan untuk praktek kerja di kota Solo, Tak terpikir olehku untuk menulis surat dari sana dan Tibalah saat kembali ke Jakarta aku kembali menulis surat dan suratku tidak dibalas walau aku  menunggu lama, surat yang aku kirim kembali lagi  dengan alasan dari pos Belanda kalau pemilik rumah tidak ada. Saya mencoba kirim surat kembali juga beberapa minggu kemudian dikembalikan dengan alasan yang sama. Ada apa dengan MR Theo & Ms Corrie ?

Aku tidak putus asa, aku masuk ke group yahoo massanger, bergabung di group negara Belanda dan memilih kota Veenendaal tempat mereka tinggal. Layaknya sedang panik, setiap group chat aku blast untuk membantu mencarikan nomor telpon berdasarkan alamat lengkap Mr Theo. Seorang yang berkebangsaan Brazil yang tinggal di Veenendaal  Holland membantu dan menemukan nomor telpon beliau. Dia mencoba telpon berkali kali tetapi tidak ada seorangpun yang mengangat, hingga akhirnya aku juga mencoba telpon dari Jakarta juga sia sia. Tak ada yang mengangkat telepon rumahnya. Hampir setiap malam aku ke warung telekomunikasi untuk mencoba telpon, setiap hari dan sering mencocokkan waktu Indonesia dan waktu disana, setiap hari hingga aku lelah. Dalam benakku apakah mereka masih ada ?

Dulu sering membaca banyak cerita orang lain punya sahabat pena pada cerpen cerpen atau membaca puisi puisi indah tentang persahabatan antar negara, dan benarlah saya sudah mengalaminya. Lebih dari 6 tahun punya sahabat layaknya orang tua adalah sebuah cerita yang tidak akan mungkin aku lupa. Jika rindu, aku hanya membuka  surat, foto dan postcard yang masih aku simpan walau warnanya sudah mulai usang menguning,  Biar itu menjadi bukti  untuk anakku kelak jika Sahabat itu bisa dibina walau dia di dunia antah berantah yang membedakannya kelak adalah medianya.

Dear  Mr Theo & Ms Corrie, Apakah kalian masih ada ? Doaku selalu kupanjatkan agar kalian tetap baik baik saja jika ada.

I love You Mr Theo & Ms Corrie!

See…Im crying!

12 thoughts on “Doa Untuk Sahabat

  1. Agak gimana baca ujungnya, kok rasanya sedih ya, yang awalnya begitu dekat, ujung ujungnya sampai tak dapat lagi kabar lagi, semoga nanti ada surat kabar kembali ya bang dari mereka

  2. Aku juga pernah punya beberapa sahabat pena waktu SMA dulu. Masih di Indonesia, bukan luar negeri. Sedih memang waktu akhirnya komunikasi berkurang dan lama-lama hilang. Ada yang udah pernah ketemu, ada juga yang belum. Oya, semoga Mr Theo dan Ms Corrie baik kabarnya dan sehat selalu ya, Bang Jim☺.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *