Halo Ayah

Halo Ayah

Ah..selamat pagi gerimis, rasanya aku ingin sekali bermalas tak mau sekolah dengan mencari alasan, tetapi aku selalu tak berani melakukannya tak kala melihat ayah mulai merapihkan tambatan tali perahunya di belakang rumah. Melihat ibu juga mencari sisir dan mengepang rambutku agar rapih pergi sekolah. Panggil ayahku Somat, lelaki pemberani yang bersahabat dengan ombak, mencari ikan ditengah laut untuk kami bisa hidup membuatku semakin mencari tau makna hidup.

Tali sepatu sudah kuikat, tas sekolah berwarna pink kusam bergambar kartun khas dongeng dongeng peri yang dibeli ibu beberapa tahun lalu selalu aku sandang, sekarang aku sadar tas itu memang KW (kawe) tapi menerimanya saat menjadi juara kelas dalah moment yang paling hore, ibu hanya membelinya di pasar tetapi aku sangat bangga dengan pemberian ibu saat itu.

Aku berlari kecil diatas papan papan tersusun rapih bagai sebuah jembatan menuju bibir laut, sudah ada ayah disana menunggu dengan perahunya, membawaku ke daratan Belawan untuk bersekolah. Hanya butuh waktu 15 menit menyebrangi selat kecil dari kampungku menuju sekolah.

Selama 15 menit diperahu dan  bertahun tahun selalu melihat ayah dengan semangatnya mengantarkanku sekolah, kekuatannya mengemudikan perahu seolah mengajariku untuk terus bersemangat belajar, kondisi perahu yang sederhana serta atap pelindung yang apa adanya  terbuat dari sisa spanduk kampanye partai, Taklah terpikir olehku dulu untuk bisa membuat kondisi ayah semakin membaik.

Aku dan hidup selalu memulai pagi dengan angin laut dan aroma pantai pesisir yang tak berpasir, Dari SD hingga SMA irama yang sama adalah seperti sebuah budaya, menyaksikan ayah bergegas melaut, memperbaiki jalanya dan melaut lagi, melaut lagi.

Sebab siang itu, aku tak ingat tanggal berapa, aku menunggu ayah di dermaga cukup lama. Tak ada ayah, yang ada hanya perahunya tertambat di ujung pelabuhan kecil disana. Aku bertanya pada wak Nunu, pemilik warung tempat biasa orang berteduh menunggu, ternyata ayah sedang ke pasar membeli sesuatu. Tak punya handphone apalagi smartphone untuk bisa memberi kabar, sehingga menunggu pasrah adalah sebuah tindakan yang benar. Hampir 30 menit menunggu, ayah juga tak tiba, gerimis sudah datang tetapi ayah belum juga pulang.

Dari jauh aku lihat ayah berlari, menenteng plastik hitam yang didalamnya adalah minyak goreng, kopi dan pisang. Kami bergegas ke perahu dan melaju pulang.

Setiap ayah menjemput aku pulang sekolah, selalu bertanya tentang keadaan kelas, apakah ada Pekerjaan Rumah dan pertanyaan standar lainnya, tetapi begitulah sepertinya ayah, berdalih bertanya sepanjang perjalanan pulang agar tidak terasa bisingnya suara mesin perahu yang semakin parah hingga kita tak terasa sudah tiba dirumah.

Jika di kota menghabiskan sore dengan keluarga bercengkrama di pizza, berbeda dengan kami, Pisang, minyak goreng dan bungkusan lainnya disulap ibu menjadi kudapan sebelum malam tiba. Pisang goreng buatan ibu enak sekali, dimakan hangat di teras rumah menghadap laut di atas laut. Ayah menyeruput kopinya dalam dalam, menikmati kumpul keluarga yang untuk sebagian orang sangat sederhana tetapi begitu berharga…Ia sangat berharga.

Sebab tak butuh waktu lama untuk menerawang mengingat cerita ini. Berkat belajar untuk tidak konsumtif dan mengumpulkan recehan di kaleng biskuit bekas kemudian menyimpannya di bank, maka aku bisa meneruskan kuliah hingga bisa mendapat bea siswa. Kutulis cerita ini sambil bekerja disalah satu perusahaan telekomunikasi di kota , karir yang baik, ruangan kerja yang dingin dan nyaman serta gaji yang sangat lumayan.

Kampung Nelayan Belawan – Menemukan Sebuah Cerita Imajinatif Positif

Ah..kembali aku mengingat sebuah coretanku dulu,  memaknai hidup saat di desa.

Begini bunyinya :

Karena setiap menunduk kebawah, air laut mengajak ku bercermin, demikianlah aku tidak cengeng, ibuku mengajarkanku untuk mandiri dan tau diri…

Hentakan titi titi papan mengingatkanku atas kehati hatian yang juga tak boleh melupakan maha pentingnya sebuah kecekatan…

Tak mudah menemukan gerai minimarket dan tak pernah terngiang bunyi terompet sepeda penjual eskrim, mengajariku untuk tidak berlaku konsumtif hari lepas hari…

Sering dikunjungi orang kota, menyadarkanku begitu menariknya kami di mata mereka, hingga setiap langkah menyusuri desa mereka ucapkan doa doa…

Terimakasih untuk jutaan doa, sampai suatu saat aku bisa dielukan dikota, bermanfaat di desa dan membuat ayahku bangga!
.

.

Sebentar, Ayahku telpon…sepertinya dia mau mengabarkan kalau toko kelontong yang saya bangun untuknya sudah selesai….”Halo Ayah……”

“Cerita ini didukung oleh Bank Sumut “ #AyoKeBankSumut #BanknyaOrangSumut

 

 

3 thoughts on “Halo Ayah

  1. Good.. ceritanya bagus.. utk anak anak sekarang yg terbiasa dgn kemudahan dan tehnologi sangat bermanfaat sehingga tahu utk jadi sukses butuh semangat dan kemauan yg keras…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *