Menjemput Ridho Di Tengah Laut

Menjemput Ridho Di Tengah Laut

Beberapa minggu di Kota Bandar Lampung tak lantas membuatku bisa melanglang buana kesana kemari, sebab pekerjaan yang membawaku kesini bukan untuk liburan biaya sendiri, jadi harus tau diri! Lepas bekerja biasanya hanya dihabiskan di warung kopi khas Lampung yang rasanya buat aku melambung. Hari Minggu ini setelah beberes dengan kegiatan pekerjaan, kusempatkan bermain agak jauh, bersama tiga orang teman menelusuri pantai yang semalam hanya aku lihat dari puncak ditengah kota.
Berkendara sekitar empat puluh lima menit membuatku lumayan lama terdiam didalam mobil, tak sadar aku terpejam beberapa menit serasa tertidur bahkan mendengkur, Mungkin lelah karena harus terbangun dini hari untuk sebuah acara dipagi hari. Pilihan memejamkan mata di  mobil saat dalam perjalanan seharusnya tidak kulakukan sebab aku paham betul akan menghasilkan foto foto lucu yang akan cepat menyebar  dan itu aku sadar. Ah..lupakan! Karena jangankan foto, video sedang mendengkur pun mungkin sudah diatur tinggal meluncur di group atau sosial media.
Mereka memang teman teman yang “gila” tapi tetap kusuka karena itulah mereka.

Dengan membayar lima belas ribu rupiah per orang, tibalah kami di sebuah kawasan wisata bernama Pantai Sari Ringgung Lampung. Puluhan mobil parkir berbaris dibibir pantai, anak anak bermain pasir, pantai yang landai membuat ayah dan ibu tidak was was  hingga bisa bersantai. Gubuk kecil disewa senilai lima puluh ribu rupiah menjadi tempat berteduh. Yah standarlah lah, layaknya sebuah pantai di Indonesia, pasti dengan suasana yang sama.

Awalnya memang kita datang untuk mandi, tetapi keinginan itu hilang setelah melihat sebuah bangunan yang tidak biasa di tengah laut. Ada Masjid berdiri mengambang di tengah laut diujung sana. Penasaran kami pun semakin besar dan rencana mandi di pantai pun jadi buyar. Memutuskan untuk menyewa perahu menuju Masjid Terapung Al-Aminah  untuk sholat. Masjid yang dibangun dari kayu, berdiri diatas ratusan drum di atas air laut ini sangat familiar untuk rakyat Lampung, pemerintah menjadikan daerah ini sebagai daya tarik wisata yang memiliki dua fungsi, rekreasi sambil beribadah, Lengkap!

Berperahu sekitar lima menit membawaku kami ke Masjid Terapung ini. Takjubku pun menjadi saat melihat tak ada tiang pancang untuk membangun mesjid, benar benar terapung dan mengambang di atas air laut teluk Lampung. Ini masjid terapung sebenarnya, Masjid  yang dulunya dibangun oleh nelayan untuk tempat menunaikan sholat saat waktu sholat tiba.

Mesjid Masjid Terapung Al-Aminah

Kadang pasti ada yang berfikir, Mengapa saya harus ikut menyebrang ke masjid untuk sholat ? mengapa tak bermain saja dipantai ? atau sekedar makan mie instan di kantin sekitar pantai ?.  Adalah aku seorang non muslim yang menganut ajaran kebaikan. Hal seperti ini sudah terbiasa buat aku menemani teman sholat ke mesjid walau hanya menunggu di halaman atau berdiam diri di dalam mobil. Buat saya anti ? atau buat masalah ? jawabannya Tidak! Menghargai sudah diajarkan oleh Ayah dan Ibuku sejak kecil.

Dan aku dilahirkan oleh seorang ibu dan ayah yang bukan Nasrani, hingga aku berkeluarga sampai sekarang ini pun, aku tidak pernah diceritakan oleh ibu dan ayahku mengapa dulu mereka berpindah agama, Apakah saya penasaran? Tidak! karena itu adalah pengalaman iman mereka berdua. Pertanyaanya adalah, Mengapa saya tidak penasaran, Karena tak pernah ibu dan ayahku membandingkan,menjelekkan atau menceritakan agama yang dulu mereka anut hingga sekarang menjadi Nasrani. So untuk apa saya harus terus selalu bertanya.

Menghormati orang yang beribadah adalah wajib, Melihat keluarga ibu dan ayah menjalankan ibadahnya dirumah sudah tidak menjadi pemandangan istimewa, sebab begitulah dirumah. Memahami untuk menunda sebuah pekerjaan karena teman yang akan sholat itu juga wajib (bayangkan dia akan berbicara dengan Tuhan, kemudian dilarang atau ditunda tunda, bukankan itu sebah dosa besar ?

Cerita pendek ini saya tulis untuk membukakan mata dan hati siapapun yang mau terbuka untuk berhenti menghujat jika ada sebuah tulisan ber “nada” agama. Mengapa komentator komentator ulung itu tidak paham, hingga dunia ini hancur pun tak akan mungkin agama saling mengakuisisi, Jika demikian mengapa harus saling menghujat tiada henti.

Terimakasih untuk Ayah dan Ibu, yang sudah tidak mau menceritakan sepenggal misteri keimanannya, sebuah pesan sudah terpatri untuk tetap berbuat baik agar orang tau kamu beragama untuk terhindar dari maut. Dan begitulah saya sudah melakukannya hari ini dengan menemani tiga orang teman aku  Menjemput Ridho Di Tengah Laut.

Selamat menjalankan Sholat Mas Alex, Mas Rudi dan Mas Dicky.

رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ. وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ “Ya Tuhan kami terimalah daripada kami (amalan kami), dan terimalah taubat kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang” (QS. Al Baqarah: 127 dan 128).

Tulisan ini diposting menggunakan jaringan XL4GLTELampung

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *